Langsung ke konten utama

Mandi Hujan Sungguh Menyenangkan

Siapa yang belum pernah mandi hujan? Kayaknya hampir semua orang pernah ya, baik sengaja maupun tidak sengaja “hujan-hujanan” begitu juga diriku saat masih kecil. Mandi hujan memang merupakan hal yang sangat menyenangkan terutama bagi anak-anak, apalagi kalau dilakukan bersama-sama tentu akan menjadi pengalaman indah tak terlupakan. Kebetulan siang kemarin, tepat ketika Althaf pulang sekolah, hujan turun dengan sangat deras. Saat keluar dari mobil hendak masuk ke rumah, Althaf sedikit kehujanan walaupun sudah aku payungi hingga ke teras.

“Bunda, Aku boleh mandi hujan ya? Kan hujannya deras, lagian baju aku juga udah basah nih sedikit. Ya, Bunda, boleh ya?” Althaf meminta izin dengan penuh harap.
Aku pun berpikir sejenak, “Oke, tapi hanya 15 menit saja ya, atau kalau hujannya sudah berhenti harus segera mandi.”
“Asik…!!!” Althaf pun loncat kegirangan, langsung membuka sepatu dan rompi seragam sekolah lalu meluncur ke jalanan depan rumah

Sejak beberapa waktu lalu sebenarnya Althaf sudah meminta izin untuk mandi hujan, apalagi saat teman-temannya yang asik mandi hujan lewat depan rumah. Ada beberapa pertimbangan aku tak mengizinkannya saat itu. Pertama, hujan baru saja turun sejak lama tak pernah hujan, karena hujan ini akan membersihkan polusi udara. Debu dan kotoran dapat terbawa air hujan yang bisa memberi efek buruk bagi kesehatan anak. Kedua, Althaf sedang kurang fit karena sedikit batuk dan pilek, khawatir akan memperburuk kondisi kesehatannya. Ketiga, hujan tidak terlalu lebat atau gerimis yang mungkin akan membuat kepala pusing.

Kemarin adalah kali pertama Althaf mandi hujan, tentu saja ia senang bukan kepalang. Banyak hal yang dilakukan walau hanya mandi hujan sendirian. Althaf berlari-larian menikmati turunnya air dari atas, sesekali ia menengadahkan kepala. Saat ada genangan air hujan ia pun berloncatan hingga air terciprat ke sekitar, lalu menepuk-nepuk air dengan tangan. Tak kehabisan ide, Althaf mengambil sepeda, lalu berputar keliling komplek, menerobos genangan air sambil berteriak kegirangan. Aku pun ikut senang melihatnya, karena itulah manfaat dari mandi hujan. Muncul rasa kebahagiaan, meningkatkan imajinasi, mengasah kreativitas, melatih kemampuan motorik, dan tentunya menambah pengetahuan.

Kita sebagai orang tua wajar sekali jika merasa khawatir akan kondisi anak setelah mandi hujan. Namun, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan, agar kesehatan anak tetap terjaga. Pertama, seperti yang sudah kusampaikan sebelumnya, perhatikan kondisi fisik anak serta intensitas air hujan sebelum mengizinkan anak mandi hujan. Kedua, hindari air hujan yang keluar dari talang air atau selokan atap rumah karena telah bercampur dengan kotoran. Ketiga, pastikan anak tidak mendekati tiang listrik atau sumber aliran listrik lain karena bahaya kesetrum. Keempat, jika hujan sudah berhenti, segeralah lepas pakaian yang basah dan mandi dengan air hangat agar tidak kedinginan. Kelima, setelah anak mandi, kita dapat memberikan minuman atau makanan hangat agar suhu tubuh anak kembali normal. Terakhir, istirahat yang cukup.

Jadi, kita tak perlu khawatir lagi jika hujan datang dan anak-anak ingin mandi hujan. Seperti salah satu kisah sahabat, Anas bin Malik RA berikut ini:

Anas berkata: Kami bersama Rasulullah SAW kehujanan. Rasulullah SAW menyingkap pakaiannya agar terkena air hujan. Kami bertanya: Ya Rasulullah, mengapa kau lakukan ini?
Beliau menjawab, “Karena ia baru saja datang dari Tuhannya ta’ala.” (HR. Muslim)

Demikian, Rasulullah SAW pun tak melarang kita untuk mandi hujan karena sejatinya hujan adalah rahmat dari Allah SWT. Air hujan yang turun ke bumi tak hanya membawa kebahagiaan, tetapi juga keberkahan. InsyaAllah… Oleh sebab itu, saat turun hujan jangan lupa berdoa ya! “Allahumma shayyiban naafi’aan” (Ya Allah turunkanlah pada kami hujan yang bermanfaat). Aamiin Allahumma Aamiin.


#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp