Langsung ke konten utama

Little Box of Books

Sejak dua hari lalu Albarra batuk pilek, jadi aktivitas pagi setelah mandi dan sarapan adalah berjemur. Biasanya pagi bisa bobo nyenyak karena kakaknya sekolah, tetapi sekarang lebih sulit, karena hidung mampet dan batuk berkali-kali. Akhirnya bunda ajak main terus, mumpung Mas Althaf sekolah, semua mainan boleh dipinjam. Selain bermain, kami juga tentunya membaca buku, salah satunya buku ini yang kubeli di Big Bad Wolf awal tahun 2018, berjudul “Pirate Pete and Princess Polly”. Bisa dibilang ini buku pertama Albarra yang bukan turunan dari Althafaro. Hehehe… Maklum ya anak kedua, banyak warisan kakaknya.

Buku terbitan Ladybird Books Ltd - New Zealand ini berbahan karton atau jenis board book, berukuran kecil sekitar 10 x 10 cm, yang simple banget khas buku untuk anak usia satu tahun, bisa dibawa kemana-mana dengan mudah. Harga persisnya lupa, kalau tidak salah untuk satu kotak isi empat buku, sekitar 50 ribu rupiah saja. Pada keempat bukunya, terdapat tokoh utama bernama Pirate Pete seorang anak laki-laki dan Princess Polly seorang anak perempuan. Ada tokoh lainnya sebagai teman mereka yaitu Cowboy Connor dan Fairy Freya. Tema yang disampaikan terkait pengalaman pertama mereka dalam menjalankan aktivitas sehari-hari dan interaksi sosial. Bahasa yang digunakan pun sangat sederhana, cocok untuk dibaca bersama anak usia di bawah dua tahun.

Dalam satu kotak terdapat empat buku dengan judul yang berbeda, yaitu “My New Bed”, “My Friends”, “My Potty”, dan “Say Please”. Sudah tergambar dari judulnya ya? Isi dari ceritanya berkisar pertemanan dan aktivitas bermain bersama dengan banyak teman. Kemudian dalam aktivitas sosial tersebut, dibutuhkan “4 magic words” yakni tolong, terima kasih, permisi, dan Maaf. Tentunya diharapkan dapat melatih anak mengaplikasikannya dalam kehidupan sosial. Selain itu, tema untuk membentuk kemampuan dasar pribadi pun ada. Misalnya, proses “toilet training” dan aktivitas sebelum tidur seperti menyikat gigi.

Kalau Albarra sih rasanya masih belum paham cerita keseluruhan, tapi dia tahu beberapa maksud gambar. Misalnya dengan menyebutkan kata “bobo” pada gambar kasur dan “mamam” pada gambar makanan. Namun, sebenarnya buku jenis ini banyak beredar juga dengan judul dan penerbit yang berbeda, tetapi dengan pesan yang sama. Jadi, silahkan dicari di toko buku terdekat atau hunting di bazar buku semacam BBW. Pastinya recommended untuk memperkenalkan anak terhadap buku dan mengajarkan anak sejak dini, kebiasaan-kebiasan baik. Lha, tadinya mau curhat anak sakit malah jadi simple review nih, gapapa ya sekalian ^_^ Semoga bermanfaat.

#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…