Langsung ke konten utama

Kupeluk Hatimu, Kubimbing Cintamu


Sabtu kemarin, alhamdulillah aku bisa nenghadiri kajian di Masjid Babussalam, oleh Ustadz Bendri Jaisyurrahman. Tak mungkin tanpa alasan Allah SWT memudahkan langkahku ke masjid, begitu juga bagi Pak Suami. Kami berdua kembali diingatkan bagaimana cara memelihara hubungan dengan anak-anak, sebelum mendampingi mereka mengarungi kehidupan nyata. Jauh sebelum berusaha mengarahkannya, hingga menjadi makhluk Allah yang mulia. Bismillah, berikut beberapa hal yang sempat kucatat, sebelum akhirnya konsentrasi terbagi dengan Albarra yang mulai bosan duduk tenang. Hehehe...

Sejak dini, ikatan batin antara anak dan orang tua perlu dikuatkan. Mengapa? Seringkali ditemukan permasalahan pada anak, seperti kecanduan gadget, narkoba, pergaulan bebas, dan lain sebagainya. Umumnya kondisi ini terjadi karena kurangnya ikatan batin antara anak dan orang tua. Anak akan mencari jati diri mereka di luar rumah, meminta pertolongan orang lain saat butuh bantuan, menghibur diri dikala sedih bersama orang lain. Dimana kondisi ini sangat rentan untuk dimasuki oleh orang jahat seperti bandar narkoba dan predator seksual.

Oleh sebab itu, kita sebagai orang tua, wajib hadir setiap anak-anak memerlukan kita, saat mereka sedih, saat mereka sakit, dan saat mereka unjuk prestasi. Kita harus menjadi orang pertama untuk berada di samping mereka. Jangan sampai orang lain, orang jahat yang kini begitu meresahkan, menjadi lebih dulu hadir dibandingkan kita sebagai orang tua. Kita tak perlu bergegas untuk menjadikan anak seseorang yang mandiri, seorang anak yang bisa segera lepas dari pengawasan dan intervensi orang tua. Sekali lagi, kuatkanlah dahulu ikatan batin di antara kita, anak dan orang tua.

Namun, menguatkan hubungan antara anak dan orang tua adalah pekerjaan rumah terbesar saat ini, saat teknologi semakin canggih. Pada zaman dahulu, kalau anak menangis, orang tua segera memeluk dan menghibur dengan nyanyian. Anak pun akhirnya merasa setiap ia sedih, ada ayah dan bunda yang akan hadir untuknya. Sedangkan orang tua saat ini biasanya, saat anak menangis, langsung memberikan gadget, menunjukkan video upin ipin dan lagu baby shark. Akhirnya ketika anak sedih, dia akan cari gadget untuk mengusir kesedihan. Anak pun kelak akan lebih mendengar orang lain atau gadget dibandingkan dengan kedua orangtuanya.

Setelah ikatan batin antara anak dan orang tua sudah kuat, bimbinglah mereka seperti bermain layang-layang. Ibarat layang-layang yang terbang menjelajah angkasa, biarkanlah anak-anak bebas mengarunginya. Biarkan mereka mencari ilmu hingga setinggi langit di angkasa, mendapat pengalaman hidup sebesar dunia. Mereka pun akan menemukan banyak angin yang menghembus dari berbagai arah, inilah proses dimana mereka belajar untuk menjadi dewasa.

Ada teman, lingkungan, sekolah, dan berbagai situasi yang menuntut benang layang-layang ini harus lebih kuat dan lebih kuat lagi menghadapi. Angin dapat berbentuk banyak hal, seperti gadget, pergaulan bebas, narkoba, predator anak, dll. Sementara benang adalah ikatan batin antara anak dan orang tua. Orang tua dapat menariknya, mengulurnya, bahkan mengarahkannya, tetapi seberapa kuat benang itulah yang menjadi tugas kita saat ini untuk memastikannya. Dan kemana pun mereka terbang, akan ingat untuk kembali pulang.

Jadi, sejauh apapun anak-anak kita melangkah, sebesar apapun godaan buruk yang siap menerkam, sebanyak apapun pilihan jalan yang dihadapkan kepada mereka, insyaAllah mereka siap dengan sejata nasihat yang kita sampaikan dengan penuh cinta. Namun, ikatlah terlebih dahulu hati mereka dengan kuat, sebelum kita memberikan nasihat. Dengan demikian, apapun yang kita tanamkan kepada mereka, maka akan didengarkan dan diaplikasikan kapanpun dan dimanapun mereka berada. InsyaAllah.


#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost




Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp