Langsung ke konten utama

Cuci Sepatu


Liburan Part #5

Liburan Jumat pekan lalu diisi Althaf dengan mencuci sepatu, bukan kerja paksa lho yaa, tapi memang sedang mulai membiasakan Althaf merawat barang-barang pribadinya sendiri. Teknik mencuci sepatu yang benar pun mulai kuajari, karena biasanya dia hanya main-main air saja. Maklum lah ya, namanya juga anak-anak. Oleh sebab itu, pas waktunya Albarra tidur siang, kami mulai bergegas menyiapkan segala kebutuhan. Sepatu yang hendak dicuci, sikat, sabun, kursi jongkok, dan selang air.

Oh iya, selain sepatu sekolah, ada sepatu dewasa di sana, kebetulan pekan lalu memang kami hendak pergi ke luar kota. Rencananya mau pakai sepatu kembaran ini, apa daya saat mau dipakai masih basah, tidak jadi dipakai deh! Awalnya memang hanya mau mencuci bagian luar dan bawah saja yang sekiranya kotor, tapi karena Althaf terlalu bersemangat mencuci, ia basahi pula bagian dalam sepatu dengan air dari selang air.

Yah, begitulah ceritanya, anak-anak memang selalu lebih bersemangat dalam kegiatan mencuci-cuci seperti ini. Baginya, aktivitas ini bukanlah sebuah pekerjaan, tetapi seperti permainan. Ok, besok-besok kita bermain lagi yang lain ya? Selanjutnya bermain dengan menggunakan sapu, kain pel, sabun cuci piring, dan setrika. Kalau begini, selesai deh Nak, semua pekerjaan Bunda. Hehehe...



#bundytamenulis #bundytabercerita #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #liburancigo #libursekolah #liburakhirtahun #liburansekolah #liburanakhirtahun

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…