Langsung ke konten utama

Cahaya di Langit Jakarta


Belum bisa move on dari acara reuni di Monas pekan lalu, akhirnya aku pun lanjut membaca buku ini. Cahaya di Langit Jakarta, penyunting Pipiet Senja, tahun 2016. Alhamdulillah bisa memiliki buku ini di malam menjelang Reuni Aksi Damai 212 kemarin, 2 Desember 2018. Paket buku diterima malam hari, jadi kala itu aku belum sempat membacanya. Akhirnya buku ini ikut dibawa ke Monas, setelah shalat subuh, aku sempat membaca beberapa halaman terdepan, berdebar rasanya. Kupandangi sekitar, kubayangkan reuni saat itu seperti hari dimana dua tahun lalu terjadi. Aku semakin bimbang, apakah membaca buku ini perlu aku lanjutkan saat itu juga? Namun, takbir berkali-kali kudengar seolah memanggilku untuk menikmati momen reuni ini. Akhirnya, kuputuskan menutup buku dan ikut terhanyut dalam dzikir bersama dan mendengar ceramah.

Alhamdulillah, hari ini aku bisa selesai membacanya. Maklum ya, ibu dengan dua anak bacanya lebih banyak buku anak-anak. Jadi, kalau buku semacam ini selesai dibaca seminggu saja sudah sangat patut disyukuri. Di pertengahan membaca berkali-kali aku merinding, sesak di dada, dan meneteskan air mata. MasyaAllah… Tabarakallah… Jadi begini ya gambarannya semangat dan gairah aksi Bela Islam dua tahun lalu? Begitu nyata upaya pembelaan terhadap agama Islam, terhadap kemuliaan kitab suci Al-Quran dengan berkali-kali menggelar aksi, 1410, lalu 411, dan kemudian 212. Beragam cerita tentang bagaimana keimanan menggugah masyarakat kala itu untuk hadir menyuarakan isi hati yang ternodai.

Dalam buku ini kita dapat membaca kesaksian para ulama, tokoh politik, aktivis sosial, dosen, dan berbagai profesi lainnya saat aksi Bela Islam dilaksanakan. Tak hanya itu, kita juga diajak untuk memahami, mengapa aksi tersebut bisa terjadi dengan sangat massive. Bahkan diikuti oleh peserta yang jumlahnya tak main-main, berasal dari berbagai daerah di Indonesia dan beragam kalangan masyarakat. Bukan karena uang dan untuk kepentingan dunia semata, tapi karena Lillahi Ta’ala. Bagiku, isi di dalam buku ini benar-benar menunjukkan rasa cinta umat Islam Indonesia, cinta terhadap agama, cinta terhadap Al-Quran. Tak ada celah bagi para penistanya, karena para mujahid dan mujahidah akan selalu menjadi garda terdepan untuk membelanya. Kemarin, hari ini, esok, dan selamanya. ALLAHU AKBAR…!!!


#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir