Langsung ke konten utama

Akhirnya “Selfie” Lagi

Kapan terakhir kali “selfie” bareng Pak Suami? Duh, rasanya sudah lama sekali, bahkan sudah tak ingat lagi. Sejak punya anak, apalagi beranak dua, dan dua - duanya lelaki, selfie berdua Pak Suami menjadi momen yang sangat langka. Jelas saja, kini kami selalu mengutamakan foto keluarga atau setidaknya foto anak. Fase perkembangan yang dilalui mereka beserta aktivitas khas usianya cepat sekali berubah. Lah kalau ayah bundanya kan dari tahun ke tahun begitu-gitu aja. Hahaha...

Padahal kalau dulu, saat mengunjungi suatu tempat yang baru, pasti kami selfie dahulu. Sebelum zamannya ada “tongsis”, kami memang hobi ber-selfie. Tak tanggung-tanggung selfie pakai kamera DSLR, bukan sekedar handphone. Hehehe… Niat banget ya? Siapa yang fotoin? Ya foto sendiri, dibantu tumpukan tas dan sepatu, pagar rumah orang, pot bunga, bahkan mobil yang sedang parkir. Apa pun lah pokoknya dilakukan demi hasil foto ala professional photographer. Hasilnya lumayan lah buat kenang-kenangan, dipajang dirumah, atau posting di media sosial.

Nah, kalau sekarang usaha terberatnya bukan lagi dapat foto terbaik ala model, tapi udah dapat foto yang fokus semua anggota keluarganya saja sudah bagus. Maklum ya, mengarahkan gaya anak-anak itu luar biasa banget, berbagai cara harus dilakukan. Ya pakai main-mainan, ya pakai tunjuk-tunjukkan, ya teriak-teriakan, ya bunyi-bunyian, apapun yang bisa membuat mereka menghadap kamera walau sedetik saja. Bisa sampai kering tenggorokan dan keringetan aku tuuuhhh… Nah, mumpung deh kemarin anak-anak pas banget mulai ngantuk lagi karena bangun dini hari, aku dan Pak Suami jadi bisa selfie berdua lagi. Alhamdulillah, luar biasah…

#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…