Langsung ke konten utama

Si Gembul Albarra

Siapa yang suka bolak-balik memantau Kurva Pertumbuhan Anak? Ayo, ngacung…! Aku, mungkin salah satunya, setiap bulan walaupun kenaikan tinggi badan hanya beberapa sentimeter dan berat badan hanya beberapa puluh gram. Dilematis rasanya saat mengukur Mas Althaf dan Adik Albarra secara bersamaan, yang satu khawatir kalau berat badan tidak naik-naik, sementara yang satu bingung kalau naik terus. Namun, yang paling menakutkan kalau melihat berat badan ibu yaa?? Hahaha

Sebenarnya Althaf sendiri jika dilihat pada kurva, untuk anak usia lima tahun masih berada di posisi normal. Hal yang membuatku panik adalah ketika secara tidak langsung membandingkan dengan Albarra. Setelah memegangnya lalu memegang Althaf, langsung terasa berbeda cengkramannya. Jadi, Althaf ini terasa kurus sekali, sementara Albarra terasa sangat gemuk. Perasaan aja kali ah...

Albarra memang sejak lahir sudah berukuran cukup besar, yaitu 3,75 kg dengan tinggi 50 cm. Sampai sekarang alhamdulillah ia tumbuh dan berkembang menjadi anak yang sehat. Saat ini berat dan tinggi badannya pun berada di batas atas kurva pertumbuhan bayi menurut WHO. Kalau dari penampilannya, seringkali orang yang baru melihat salah dalam menebak usia. Albarra dikira anak usia tiga tahun, karena mungkin juga baju yang ia kenakan kadang memang untuk usia tiga atau empat tahun. Sudah terbayangkan besarnya kan?

Aku lebih suka menyebutnya Albarra "gembul". Dengan pipi yang berbentuk seperti bakpao, kemudian tangan yang menyerupai roti sobek dan kaki yang mirip ubi cilembu. Ia sungguh menggemaskan, apalagi kalau sudah berjalan bahkan bergoyang saat mendengarkan musik. Tubuhnya yang gempal bergerak ke kanan dan kiri sambil tersenyum menunjukkan gigi sehingga matanya pun menjadi terlihat lebih kecil. Rasanya aku ingin terus memeluknya dan mencium pipinya bahkan menggigit tangan serta pahanya.

Si gembul ini juga alhamdulillah berkembang menjadi anak yang aktif dan memiliki banyak keterampilan. Awalnya, aku sedikit khawatir kalau dengan ukuran tubuhnya yang besar itu, dia jadi sulit bergerak. Nyatanya Albarra bisa berjalan tepat di usia satu tahun. Sebelumnya juga dia terbiasa merangkak dengan cepat, buktinya beberapa kali aku kalah balapan dengannya dalam mengambil sesuatu. Intinya, semua tahapan pertumbuhan telah ia lalui dengan baik sesuai dengan tahapan usianya.

Selain mondar mandir mengikuti kemana bunda pergi di dalam rumah, Albarra juga senang bergabung dengan Althaf dan teman-temannya saat bermain. Dengan cepat ia mengambil mainan yang dipegang kakaknya, bisa dibilang merebut karena tangannya cukup cepat menyambar. Kekuatan Albarra juga tak main-main, ia bisa saling melempar bola sepak ukuran besar bersama Althaf.

Terkejutnya aku saat ia sudah bisa memanjat dinding ukuran hampir satu meter, dengan berpijak pada lubang angin. Beberapa yang membuat was-was juga ada, menekan kran dispenser air minum, dan menekan tombol penanak nasi. Kecanggihan bayi ini membuat tak boleh lengah sedikit saja. Ia juga seringkali mendorong kursi kayu, menarik kain taplak meja, membuka laci lemari, alhamdulillah hampir semua keterampilan motorik kasar dan halus sudah ia kuasai dengan baik.

Aku sangat bersyukur, kemampuan fisiknya tersebut juga diimbangi dengan kemampuan kognitif dan sosial. Albarra sudah tahu bagaimana cara bermain mobil hotwheel dengan menggunakan arena balap dan alat pemantiknya. Ia juga mengerti bagaimana cara menekan tombol mainan untuk bisa berbunyi. Bahkan serang sudah bisa buka pintu pagar sendiri. Sungguh ini membuatku lebih khawatir sebenarnya. Selain itu, ia juga sudah meniru apa yang diperbuat orang lain, sehingga bisa mengerti beberapa instruksi, misalnya mencium tangan, tepuk tangan, berkedip, makan,  menyapu, mengambil barang, minum, dan mandi.

Sejak kecil sekitar usia tiga bulan, aku sudah sering mengajak Albarra bertemu dengan teman sebaya. Sehingga dari segi kemampuan sosial dia tidak bermasalah bila bertemu dengan orang banyak. Akan tetapi, ia tetap perlu waktu untuk beradaptasi, memperhatikan orang yang baru dilihatnya. Tak jarang juga ada beberapa orang yang sepertinya ia takuti, biasanya laki-laki dewasa yang penampilannya kurang rapi. Namun demikian, saat bertemu teman, dia sudah dapat bermain bersama. Maksudnya bermain bersama dengan mainan yang dipegang masing-masing tapi belum bisa berinteraksi satu sama lain.

Secara keseluruhan, bagiku Albarra adalah anak yang cerdas dan menyenangkan. Ia begitu lucu sehingga bisa mencairkan suasana. Bermain dengannya juga bisa menghilangkan rasa penat dan menambah suka cita. Sampai saat ini, aku tidak memiliki kesulitan dalam pengasuhan. Sejak lahir, bahkan selama hamil pun semua alhamdulillah berjalan lancar, mudah, dan berkah. Semoga kebaikan ini semua berlanjut selamanya, Albarra menjadi anak sholeh penyejuk hati orang tua dan bermanfaat bagi sesama. Aku juga berharap ia selalu mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat, serta selalu diberkahi Allah SWT. Aamiin Allahumma aamiin...

#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp