Langsung ke konten utama

Sandal Jepit Terbang


Sandal jepit, menjadi teman andalan Althaf saat bermain sore. Aku sengaja membelikannya karena pernah dibelikan sandal kulit, bagian depannya tergerus karena mengerem sepeda dengan kaki. Pernah juga dibelikan sandal karet yang lebih bagus, tetapi hilang saat shalat di masjid. Alhamdulillah model sandal jepit ini cukup awet dan murah meriah. Sandal berwarna biru sengaja dibelikan, sementara sandal jepit tali merah itu tak sengaja dibeli karena saat mudik, sandal utama copot, akhirnya hanya sandal jenis itu yang ditemukan di minimarket.

Senin pekan lalu seperti biasa, setiap pukul empat sore, Althaf bermain bersama teman-teman di lingkungan rumah. Biasanya mereka bermain mobil-mobilan, robot, lego dan lain sebagainya di teras rumah. Setelah merasa bosan, mereka pun main ke luar. Balapan sepeda, sepak bola, badminton atau yang sedang hits saat ini adalah sepatu roda. Ketika bermain bola, mereka pun membuka sandal dan menjadikannya sebagai pembatas gawang.

Saat itulah ide kreatif anak-anak membuat sandal menjadi permainan yang menyenangkan. Mereka pun bermain sandal terbang, yaitu dengan melemparkan sandal-sandal mereka ke atas. Ada beberapa yang akhirnya nyangkut di pohon dan di atap rumah, termasuk sandal biru milik Althaf. Tak kehilangan akal, setelah sandal biru yang sebelah nyangkut di atas rumah temannya, althaf pun pulang. Menyimpan sandal biru yang tinggal sebelah dan kembali bermain dengan sandal merah. Entah mengapa, ia mengulangi kembali permainannya, melempar sandal merah ke atas. Akhirnya, sandal merah sebelah kanan pun menyangkut di atas.

Malam hari sepulang kerja, ayah berhasil mengambilkan sandal biru, tetapi sulit sekali menemukan sandal merah karena letaknya di atap belakang rumah tetangga, sangat tinggi dan khawatir mengganggu. Jadi, ayah bilang sandalnya diikhlaskan saja dan meminta Althaf berjanji untuk tidak lagi bermain-main lempar sandal, karena saat ini pun sandal jepitnya hanya tinggal satu pasang yang berwarna biru. Selain membahayakan jika sandal terkena orang, permainan itu bisa merusak atap atau pohon yang ada di sekitar. Bisa juga terkena kendaraan atau barang-barang lainnya yang terletak di depan rumah.

Berselang empat hari sejak kejadian dua sandal jepit melayang dan salah satunya tak kembali lagi. Hari Jumat lalu, Althaf pulang tanpa sandal satu pun alias sepasang sandal lenyap.

Bunda kebingungan, “Althaf kok nyeker?”

“Iya Bunda! Itu yang satu nyangkut di pohon sama aku, yang satu lagi nyangkut di atap rumah kita sama teman aku.” Althaf menjelaskan sambil panik.

Menarik nafas panjang lalu aku berjongkok di hadapan Althaf dengan rasa kecewa, “Astaghfirullah Althaf, kan ayah sudah bilang jangan main lempar-lempar sandal lagi!”

Enggak Bunda, aku enggak lempar ke atas, aku itu ngajak temanku lemparnya ke depan begitu lho.” Althaf coba menjelaskan dengan serius, dan meyakinkan bahwa dia tidak melakukan kesalahan yang sama.

“Ya Allah yaa itu sama aja dong lempar-lempar sandal!” Respon bunda kini dengan nada yang lebih tinggi.

“Ya beda dong bunda, ayah akan bilang jangan lempar ke atas. Ini aku melemparnya ke depan begitu.” Althaf sekali lagi menjelaskan, kali ini dengan contoh gaya seperti orang bermain bowling.

Aku pun tak bisa berkata-kata lagi, hanya tetap berjongkok di depannya dan kali ini sambil menutup mata dengan tangan mengisyaratkan kebingungan. Aku pun menatapnya kembali dan masih kebingungan, “Terus kenapa bisa nyangkut kalau kamu lempar ke depan begitu?”

“Yaa aku gak tau bunda, maksudnya aku lempar ke depan gitu kok taunya sandal ke atas, itu mungkin kekuatan tangan aku terlalu besar atau karena angin gitu, Bunda.” Jawab Althaf yang kali juga nampak kebingungan.

“Yaudah sekarang kamu gak punya sandal, berarti kamu gak bisa main lagi ke luar!” Ucapku dengan nada lebih tegas.

Althaf terdiam sejenak, “Tapi aku boleh main sama teman-teman di teras rumah kan, Bunda?”

Ya ampun ini anak masih aja bisa bernegosiasi yang akhirnya aku sepakati juga, “Iya, boleh di rumah, tapi tidak keluar selama sandalnya belum ada.”

Tak lama kemudian Jumat sore itu hujan turun deras, hingga malam. Kami pun tidur lebih cepat dari biasanya. Namun, apa yang terjadi keesokkan harinya. Sabtu pagi, setelah sarapan, Althaf kulihat sudah menghilang, ternyata dia bermain sepeda lagi. Memang kalau akhir pekan, waktu bermainnya bertambah di pagi hari karena tidak sekolah. Ketika sampai di rumah, aku siap-siap menegurnya. Dalam bayanganku dia bermain sepeda nyeker atau malah pakai sepatu. Ternyata kulihat dia memakai sandal sebelah biru dan sebelah merah.

Sambil menahan tawa, aku bertanya “Astaghfirullah, Althaf kok bisa itu pakai sandal sebelah-sebelah begitu?”

“Iya semalam kan hujan deras, jadi kayaknya sandal biru aku yang sebelah ini turun sendiri, aku lihat di depan rumah. Berarti karna sandal jepitnya sudah sepasang, aku boleh main di luar kan, Bunda?” Sambil senyam-senyum Althaf pun langsung menggowes kencang sepeda mengejar teman-temannya.

Aku yang masih mematung depan rumah merasa bingung harus bersikap seperti apa. Satu sisi, masih jengkel karena bolak-balik beli sandal, entah karena rusak, hilang, dan sekarang nyangkut dimana-mana. Namun di sisi lain, aku melihat Althaf sangat cerdas. Dia bisa melakukan proses penalaran dan menyampaikan dengan cara berkomunikasi dengan sangat baik. Ada penjelasan deskriptif, sebab akibat, analisa, dan negosiasi. MasyaAllah… Tabarakallah…

Dalam hati, terserah deh, Nak! Meskipun sandal jepit yang dipakai sebelah-sebelah, tetapi bunda selalu berusaha membekalimu dengan “utuh”. Tak hanya sekedar berusaha memenuhi segala kebutuhan fisik tetapi juga psikis, untukmu bisa menghadapi masa depan. Kita tak hanya sekedar menjalani proses belajar hard skill terkait ilmu pengetahuan, tetapi juga soft skill yang dibutuhkan dalam setiap fase kehidupan. InsyaAllah


#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…