Langsung ke konten utama

Rangkul Aku, Jangan Kau Hakimi, Yaa Ukhti…!

Pagi ini, seorang wanita saudara seiman, berucap dengan kata-kata yang cukup dalam “Hijabmu hanya sekedar identitas, kamu orang yang munafik.” Seketika sesak dada ini, menangis dalam hati, pantaskah seorang manusia menilai manusia lain hanya dari apa yang nampak di hadapannya? Saudariku ini berbicara cukup keras dari jarak kurang lebih lima meter. Tidak ada orang lain di sekitarnya, sehingga kemungkinan besar memang ucapannya ditujukan padaku.

Yaa Ukhti… Aku tahu kau begitu mencintaiku. Aku tahu kau ingin ke syurga bersamaku. Maafkanlah aku ini yang masih berproses untuk “hijrah”, rangkullah aku, tapi jangan kau hakimi. Mendengar sindiranmu, aku hanya  bisa terdiam, berkali-kali istighfar aku ucapkan, entahlah ini bagian dari cobaan atau ujian. Sebegitu hina-kah aku sehingga kau mengingatkanku dengan kata-kata yang begitu menyakitkan? Padahal Allah SWT saja memerintahkan Musa dan Harun untuk menemui Fir’aun yang kejam dengan cara yang lemah lembut, sebagaimana firman-Nya:

Maka berbicalah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut mudah-mudahan ia ingat atau takut.” [Thaha/20: 44].

Yaa Ukhti… Caramu mengingatkanku membuat aku rindu pada keluargaku, sahabatku, teman-teman di sekelilingku yang sejak dulu selalu menemaniku dalam berproses. Walau aku belum berhijab, aku tak pernah merasa tersisihkan dalam pertemanan. Walau keimananku turun naik, aku merasa mereka selalu merangkul baik. Walau aku masih fakir ilmu, aku merasa selalu dibimbing hingga aku semakin mencintai agamaku dan mencoba mengenalnya lebih dalam dengan rasa nyaman. MasyaAllah… Tabarakallah…

Yaa Ukhti… Keimanan dan ketakwaan dirimu mungkin lebih baik, ilmu yang kau kuasai mungkin lebih dalam, majelis yang kau hadiri mungkin lebih banyak. Namun, aku mohon bimbinglah aku dengan sabar, sampaikanlah kasih sayangmu padaku dengan perkataan yang baik, tutur kata yang halus dan lembut, sebagaimana Allah SWT berfirman:

Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” [Ali Imran/3: 159]

Yaa Ukhti… Aku menyadari diri ini masih jauh dan takkan pernah mungkin bisa menjadi sempurna, karena kesempurnaan hanyalah milik-Nya. Aku pun menyadari bahwa sesungguhnya kebaikan yang nampak dari diriku, hanya karena Dia sedang menutupi banyak keburukanku. Lalu, pantaskah seorang manusia menghakimi manusia lainnya? Pantaskah seorang manusia menilai makna hijab dalam hidup manusia lainnya? Pantaskah manusia menyematkan kata munafik pada manusia lainnya? Sejatinya hijab memang adalah identitas setiap muslimah. Akan tetapi, hijab yang dikenakan tidak menunjukkan penilaian bahwa seseorang lebih baik atau lebih buruk di hadapan Allah SWT, apalagi hanya di hadapan seorang manusia.

Yaa Ukhti… Setiap manusia berproses untuk menjadi hamba-Nya yang lebih baik, lebih beriman, lebih bertakwa. Namun, proses yang dilalui setiap manusia tidaklah sama. Menjemput hidayah pun beragam caranya. Ada orang yang mungkin banyak belajar terlebih dahulu, meningkatkan ilmu untuk meyakinkan diri. Ada orang yang terlebih dahulu banyak bergabung dengan orang-orang shaleh di berbagai komunitas untuk mendapat pencerahan. Ada pula yang terlebih dahulu berhijab secara fisik dan perlahan meningkatkan pemahaman. Semua itu adalah proses dan sebagai manusia tidak berhak menentukkan mana proses yang lebih baik.

Yaa Ukhti… Terima kasih atas perbuatanmu hari ini yang sebenarnya bukanlah pertama kali. Terlepas dari itu, aku sangat bersyukur, kini aku masih dikelilingi keluarga dan saudara-saudaraku seiman yang begitu menyayangiku. Mereka yang begitu tulus hatinya yang selalu mengingatkanku, menemaniku, merangkulku, membersamaiku untuk menjadi hamba-Nya yang lebih mulia. Satu hal yang pasti, aku selalu ber-husnuzhan kepada-Nya, insyaAllah ada hikmah di balik ini semua.

Yaa Allah… Selalu dekatkanlah aku dengan orang-orang shaleh, sehingga kami bisa selalu saling mengingatkan, tarik-menarik dalam kebaikan, meningkatkan keimanan dan ketakwaan. Sesungguhnya keinginanku hanya satu, yaitu “pulang” dengan husnul khatimah, cukup perbekalan untuk sampai ke Jannah. Aamiin Allahumma Aamiin.

#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…