Langsung ke konten utama

Jadi Bunda Juga Belajar

Hari Jum’at kemarin, alhamdulillah tak seperti biasanya, aku agak sedikit lebih santai karena anak pertamaku, Althaf sedang libur sekolah. Hari itu sengaja diliburkan karena sehari sebelumnya dia outing ke salah satu restoran pizza untuk mengikuti aktivitas menjadi “Pizza Maker Junior”. Biasanya pada hari Jum’at, aku perlu bangun pagi lebih awal karena selain membantu persiapan kerja suami dan sekolah anak, akupun harus menyiapkan diri untuk belajar. Ya, belajar. Terdengar aneh mungkin, kok ibu rumah tangga masih belajar? Aku memang orang yang haus ilmu, sejak kecil, kalau kata ibuku aku ini memang anak yang rajin belajar. Terutama saat duduk di bangku sekolah dasar, karena saat itu belum banyak kegiatan ekstrakurikuler yang aku ikuti dan jumlah teman main pun masih terbatas.

Dibandingkan dengan kedua adikku, saat masih di bangku sekolah dasar, aku selalu berinisiatif belajar sendiri, mengerjakan PR, atau berlatih buku soal. Berbeda dengan adikku yang sangat cepat menangkap pelajaran, aku perlu belajar dengan tekun, mengulang sendiri hingga beberapa kali, baru bisa aku ingat dan aku mengerti. Jauh berbeda ketika aku mulai memasuki masa remaja, SMP dan SMA, aktivitasku yang lebih banyak di luar urusan akademik membuatku kekurangan waktu untuk belajar. Jangankan mengulang-ulang pelajaran di sekolah, membuat pekerjaan rumah pun kadang terlewat. Wah, benar-benar manajemen waktu yang kurang baik.

Namun, tentunya hasil akademik yang kurang memuaskan membuat aku sadar bahwa memang aku mungkin saja tidak seberuntung teman-temanku yang lain. Sekali datang ke kelas, menerima penjelasan pelajaran, langsung terserap masuk ke memori. Aku perlu waktu lebih lama untuk memahami, lebih banyak proses mengulang, dan intinya aku harus lebih tekun belajar. Jadi, sebenarnya berawal dari kesadaran bahwa aku perlu banyak waktu untuk belajar, sehingga aku jadi terus selalu bersemangat untuk belajar. Yah, setidaknya yang terlihat oleh orang tuaku, aku ini rajin belajar. Hehehe...

Begitu juga dengan saat ini. Aku seorang ibu rumah tangga yang memiliki dua orang anak laki-laki. Setelah aku perhatikan, mereka cepat sekali menyerap informasi. Memang usianya saat ini bisa dibilang “Usia Emas”, sehingga aku sebagai ibu pun perlu mempersiapkan diri dengan baik untuk membersamai mereka tumbuh dan berkembang. Kekhawatiran ini memacu diriku untuk terus meningkatkan kualitas diri, baik secara intelektual, emosional, sosial, dan spiritual.

Hingga suatu saat sekitar dua bulan lalu, aku menemani Althaf yang saat ini berusia lima tahun, menghafal surat-surat pendek. Seperti pada umumnya, berawal dari surat dengan nomor urut terbesar, An-Naas, kemudian Al-Falaq, Al-Ikhlaas dan seterusnya hingga Al-Humazah.
Tiba-tiba Althaf menyampaikan sesuatu yang membuat jantungku berdegup kencang, “Bun, Aku sekarang di sekolah sedang hafalan Surat An-Naba lho. Sudah sampai ayat lima.”
Langsung kubuka surat Al-Quran di awal Juz 30 itu. “Astaghfirullah, sampai 40 ayat ya?” Tanyaku dengan terkejut membuat Althaf kebingungan.
Althaf menjawab dengan penuh harap, “Iya, nanti Bunda temani aku menghafal lagi ya!”.
InsyaAllah, ya Mas! Bunda juga belum hafal nih...” Jawabku dengan sedikit keraguan.

Setelah kejadian malam itu, aku pusing tujuh keliling. Padahal suamiku ingin sekali anak-anaknya menjadi Hafizh Quran, tapi baru Juz 30 saja, aku sudah kocar-kacir kebingungan menemaninya belajar. Tentunya aku bisa menyekolahkan mereka ke tempat yang memang khusus penghafal Al-Quran. Namun, tetap saja aku sebagai ibu harus juga memperlihatkan semangat belajar untuk membersamai mereka mempelajari sesuatu. Setidaknya ikut menghafal, walaupun pasti kecepatan dan kemampuannya saat ini telah berbeda.

Keesokan harinya kuantar Althaf ke sekolah dan qadarullah (baca: sudah ditakdirkan Allah SWT), beberapa orang tua murid mengajakku mengikuti komunitas belajar “tahfizh” khusus ibu-ibu. Jadi, setiap hari Jumat setelah mengantar anak sekolah, kami belajar hingga jam waktu mereka pulang sekolah. Sungguh pemanfaatan waktu yang positif. Sesekali keluar dari rutinitas domestik, kumpul di sekolah bukan hanya “merumpi” ala ibu-ibu tapi melakukan hal yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat. InsyaAllah.

Alhamdulillah, selama dua bulan aku bisa menghafal Surat An-Naba sebanyak 40 ayat. Jelas sekali perbedaannya, cara belajarku dengan Althaf. Pertama, aku perlu memotong satu ayat menjadi beberapa kata, agar memudahkan aku dalam menghafal. Pemenggalan dengan pensil berwarna agar aku bisa membayangkan letak huruf saat mengingatnya. Maklum lah, aku ini gaya belajarnya memang secara visual, jadi akan lebih mudah mengingat apa yang aku lihat. Aku pun perlu mengulang-ngulang hingga 20 kali untuk satu ayat, itu pun kadang terlupa jika keesokan harinya aku tidak melatihnya membaca saat shalat sunnah. Sementara itu, Althaf bisa sangat cepat mengingatnya dengan cara mendengarkanku saat mengulang bacaan ayat yang sama dengan suara keras. MasyaAllah… Tabarakallah…

Usia yang masih muda, kemampuan belajar yang luar biasa, dan memang pikiran yang masih jernih, membuat Althaf lebih mudah belajar dan menghafal Surat Al-Quran dibanding aku. Dia sendiri pun terkadang menggodaku, saat aku lupa atau salah, “Ah, gimana sih Bunda? Itu salah, yang benar ini!” Aku pun tidak pernah merasa malu, sebaliknya aku menunjukkan kepadanya bahwa aku juga giat belajar, walau terkadang salah, walau terkadang lambat. Di sinilah tugasku untuk menularkan semangat kepada Althaf untuk mempelajari banyak hal, untuk menunjukkan bahwa usia dan kemampuan tak menghalangi siapapun untuk terus belajar. Semangaaattt!!!

#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…