Langsung ke konten utama

Pizza Kriuk untuk Althaf

Siapa yang belum pernah makan “Pizza”? Aku rasa hampir sebagian b︎esar pernah mencobanya ya? Ada yang mungkin tidak begitu suka saat kali pertama mencicipinya, ada yang suka setelah beberapa kali mencoba, ada yang suka tapi biasa saja, ada yang sekali makan langsung ketagihan, tapi ada juga yang suka banget banget banget seperti aku ini. Kalau mendengar kata pizza saja, bahkan aku sudah seperti menelan air liur. Hahaha

Awal jatuh cinta dengan makanan yang berasal dari Italia ini sebenarnya berawal dari kesukaanku terhadap keju. Aku tidak kuat melihat lelehan keju mozarella di atas pizza yang masih panas, belum lagi pinggiran roti bulatnya yang kadang tersembunyi potongan keju. Wah, aku menyebutnya “makanan surga”. Bahkan dulu saat masih kecil, di salah satu restoran pizza terkenal di Indonesia yang pada logonya terdapat topi berwarna merah, terdapat keju tabur parmesan dalam botol kaca. Aku bebas menaburkan sebanyak apapun keju tersebut ke atas pizza. Sungguh bagai cinta pertama yang takkan terlupakan deh!

Hingga saat ini, pizza menjadi salah satu makan favoritku, bahkan keluarga kecilku. Eits, tapi tunggu dulu, pada kenyataannya menjadikan sebuah makanan bisa disukai oleh orang lain tidaklah semudah itu, apalagi anak-anak. Termasuk Althaf, anak pertamaku yang kini berusia lima tahun. Awalnya dia sama sekali tidak suka, bahkan tidak mau mencoba. Sekitar usia tiga tahun, beberapa kali aku dan suami mengajaknya ke restoran pizza dan alhasil hanya satu potong saja yang sukses masuk ke mulutnya. Namun, aku pantang menyerah. Aku yakin bisa membuatnya untuk menyukai makanan yang menurutku sangat lezat ini. Kalau tidak suka, gawat sekali karena bunda jadi tidak ada pasukan untuk membujuk ayah sering-sering makan pizza dong, Nak…! Hehehe…

Awalnya aku coba membujuk dengan balon-balon yang sudah dibentuk oleh pelayan restoran. Biasanya minta dibentuk hewan, mahkota, dan yang berhasil adalah bentuk pedang. Duduklah dengan tenang, seru, dan semangat setiap masuk ke dalam restoran. Alhamdulillah, sudah mau makan pizza? Belum. Perjuangan masih panjang, tapi setidaknya setiap kali diajak ke sini, Althaf mau masuk untuk bermain perang dengan pedang balon. Kali ketiga atau empat Althaf kuajak membuka buku menu dan memilih sendiri makanan, dan alhamdulillah ada yang ditunjuk, “Zuppa Soup”. Sudah tentu dipilih karena dia bisa makan “kriuk” puff pastry yang garing mengembang di atas mangkuk.

Hingga sekitar tiga kunjungan berikutnya, Althaf hanya mau makan zuppa soup tanpa mencolek sedikitpun pizza. Sungguh bunda gemas dan merasa bersalah, Nak! Masa pizza seloyang besar bunda makan sampai kenyang, kamu cuma makan sup saja? Hingga akhirnya kami mencoba cara lain, yaitu pindah restoran dengan suasana yang berbeda, kali ini kita pindah ke restoran yang logonya berbentuk kartu domino. Alhamdulillah, akhirnya mau juga Althaf makan pizza, walaupun hanya pinggiran rotinya saja. Wkwkwk… Kali ini jenis pizza yang kami pesan memang berbeda, sehingga baru aku sadari bahwa Althaf memang suka makanan yang kering, garing, “kriuk” seperti kerupuk. Kebetulan memang saat itu kami memilih pizza dengan roti yang tipis.

Akhirnya kami pun beberapa kali mampir atau pesan antar di restoran pizza dengan pilihan roti tipis. Tak apalah, Nak! Belum suka topping-nya yang penting kamu ikutan kenyang ya, jadi rasa bersalah bunda kalau keenakan makan pizza sendiri agak berkurang. Sambil makan, aku masih putar otak bagaimana caranya agar Althaf bisa makan setidaknya satu potong utuh. Kuperhatikan satu per satu isi topping pizza, ada daging asap, sosis, jagung, ikan tuna, nanas, paprika, dan saus tomat. Masih banyak varian lain, tapi kupikir perlu juga memperkenalkan satu per satu komposisi pizza ini agar Althaf mengenalnya dan bisa menyukainya.

Keesokan hari aku mulai memperkenalkan sosis, daging giling, jagung, dan daging asap, sebagai lauk saat makan dirumah. Alhamdulillah Althaf suka. Begitu juga saus tomat biasa aku berikan sebagai teman makan ayam goreng. Nah, kusampaikan bahwa jenis makanan itu lah yang terdapat dalam topping pizza.
Aku pun berpesan, “Jadi, lain kali kita makan semua bagian pizza ya? Pinggirnya enak, tengahnya juga enak lho…!”
Sejak saat itu, Althaf mau mencoba makan pizza dan mulai ketagihan. Oh, betapa bahagianya hati bunda, Nak! Sekarang punya teman makan pizza yang lahap sekali sampai rebutan. Jadi, kalau suatu ketika aku sedang ingin makan, tinggal bekerja sama dengan Althaf membujuk ayah untuk berangkat ke restoran pizza atau pesan antar. Hehehe

Pada akhirnya aku menyadari bahwa makanan jenis apa pun, jika orang tua menyukainya dan berusaha memperkenalkan kepada anak, maka anakku bisa menjadi suka. Coba saja perhatikan anak-anak yang “Pemilih Makanan” atau hanya menyukai makanan tertentu, mungkin saja karena memang dia belum mengenal berbagai jenis makanan. Begitu juga dengan anak yang tidak menyukai makanan tertentu, bisa jadi anak tersebut meniru orang tua, saudara, teman, ataupun orang terdekat. Intinya, selera makanan itu memang ditentukan oleh seberapa banyak referensi makanan kita dan kebiasaan orang-orang terdekat atau lingkungan. Jadi, perkenalkanlah beragam jenis makanan untuk anak-anak kita dan berilah contoh bahwa segala jenis makanan memiliki rasa yang enak dan unik. Selamat mencoba!

#nulisyuk #nulisyukbatch18a #bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost
Instagram

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…