Langsung ke konten utama

Keju Oh Keju

Gara-gara follow instagramnya Laudya Cynthia Bella, terus kok jadi teringat dengan Makuta Bandung ya? Terutama yang rasa keju. Huh, dasar pecinta keju ya, walau ada rasa-rasa yang lain, tetap yang pertama dan utama adalah mencoba yang ada keju-kejunya. Waktu itu aku beli yang “Makuta Cheese”, karena yang extra cheese kebetulan habis. Kalau yang extra cheese ada tambahan topping keju lagi lho di atasnya. Yummy...

Paduannya boleh juga sih, antara puff pastry di bagian luar dengan sponge cake di tengah dan ditutup dengan cream cheese bagian atasnya. Nah, bagian yang “kriuk” di luar bikin anakku suka, sementara bayiku saat itu sudah bisa icip-icip bagian krimnya. Sponge cake-nya sendiri memiliki tekstur yang ringan sehingga saat digabung dengan cream cheese itu kok kayaknya jodoh banget ya? Hehehe… beneran ini teh ngangenin.

Untuk harganya pun sangat terjangkau, sekitar Rp65.000 saja untuk pembelian langsung di outlet resmi, tapi konon bisa naik sampai sembilan puluh ribu-an kalau di reseller, khususnya saat baru-baru buka ya. Namun, sekarang tidak perlu jauh-jauh ke Bandung, bisa beli online atau di beberapa toko kue, kemarin aku sempat lihat di sekitar BSD. Jadi semakin sering deh belinya.

Namun, sebelum kue-kue artis semacam ini terkenal, aku udah jatuh cinta duluan dengan “The Legendary Bolu Meranti”. Pertama kali aku coba Meranti adalah saat salah satu teman membawakan oleh-oleh ketika ia mudik. Ada dua jenis yang diberikannya, yaitu Bika Ambon dan Bolu Gulung Topping Keju. Sudah tentu aku memilih untuk mencoba bolu gulungnya dong!

Pertama kali lihat pasti tertuju pada keju parut yang melimpah ruah, baik di luar maupun di dalam. Kejutannya tentu saja potongan keju berbentuk balok di dalam gulungan bolu yang berlapis krim keju manis gurih. Duh, Ya Allah… Ini makanan surga kok bisa turun ke Bumi sih? Super duper enak banget, terutama bagiku Si Pecinta Keju.

Bagian bolunya sangat halus dan lembut membuat lidahku ini nagih terus untuk memakannya. Walaupun lembut, teksturnya tidak mudah hancur saat dipotong, jadi kalau dilihat satu irisan saja, aduh cantik banget penampakannya. Penampilannya, rasanya, sampai membayangkanya saja menelan air liur dan membuat perut keroncongan. Apalagi kalau sudah makan satu potong, bener-bener gak bisa berhenti deh! Harganya juga pas banget lah dengan apa yang di dapat, sekitar Rp85.000. Meranti pun kini bisa dibeli online ya jadi tidak perlu nunggu dibeliin oleh-oleh lagi. Hehehe...

Sekian review dua variasi kue keju kesukaanku, dari Makuta dan Meranti. Keduanya sama-sama aku suka dengan sensasi rasa yang berbeda tentunya. Mohon maaf kalau ada istilah kuliner yang salah ya, karena aku tuh lebih suka makan daripada masak. Hehehe… Kalau kamu suka yang mana? Tim Makuta atau Tim Meranti? Jawab ya di comment, siapa tau ada yang ngirimin. Aamiin. ^_^

#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

BunSay - Game Level #2 Tantangan Hari #2

•Game Level #2 Tantangan Hari #2• . Bismillaahirrahmaanirrahiim… Subuh aku ukur suhu tubuh Althaf mencapai 39,1 derajat celcius. Akhirnya kuberi lagi paracetamol sambil terus mengompresnya dengan air panas, hingga pagi hari. Alhamdulillah, demamnya berkurang dan ia pun terbangun. Kami memutuskan untuk kembali izin sekolah dan beristirahat saja di rumah. Seperti biasa kalau demam turun, Althaf mulai ceria sehingga bisa kuajak sarapan di meja makan, walaupun  duduk dengan posisi bermalas-malasan. . “Mas, ini nasinya udah Bunda tuang ke piring, sekarang Kamu pilih mau makan apa?” Althaf melamun saja memandangi lauk-pauk di meja. “Mas, ayo… Kamu mau pakai apa?” Masih melamun kemudian tiba-tiba berkata, “Kentang kriuk aja pakai nasi.” “Lho,  Mamas kan suka itu wortel. Kemarin minta wortel.” “Yaudah wortel 3 potong aja.” Althaf pun mulai merengek. “Lauknya, Kamu coba semua ya, sedikit-sedikit aja.” “Ah, gak mau ah, ayam aja deh…” Pak suami yang duduk di samp