Langsung ke konten utama

Keju Oh Keju (Bagian 2)


Hari ini sesuai dengan judulnya, aku masih ingin berbagi tentang makanan rasa keju. Kebetulan beberapa waktu lalu ke swalayan dekat rumah dan kedua camilan keju ini sedang promo, jadi murah sekali hanya sekitar lima ribuan. hahaha… Kebetulan juga memang menjelang weekend dan perlu membeli perbekalan snack untuk menemani perjalanan di dalam mobil. Yaa maklum ya aku tuh tidak bisa terlambat makan, jadi walau sedikit harus ada yang masuk dulu ke perut. Jika tidak, kepala akan sakit, lambung perih hingga ke dada terasa mual. Alhasil, suami dan anak-anak bisa kena marah deh. Tidaaakkk!!!

Kembali membahas snack ini, keduanya ternyata berasal dari satu perusahaan yang sama, tapi dengan brand yang berbeda. Pada awalnya, aku hanya mengetahui bahwa kedua merek dagang ini memproduksi jenis biskuit dan kue kering rasa coklat. Namun, ternyata kemudian berkembang dengan mengeluarkan varian lain seperti vanilla, capucino, red velvet, strawberry, dan cheese pada “Tim Tam”. Sementara itu, “Good Time” yang sudah menjadi snack andalanku sejak kecil, berkembang dengan berbagai varian rasa seperti brownies, peanut, rainbow choco chips, milky vanilla, coffee, dan yang paling aku suka yakni cheese choco chips.

Rasa dari “Tim Tam Cheese” ini menurutku enak banget karena krim keju di antara dua biskuitnya sangat terasa. Krim keju terasa manis gurih dan tebal lapisannya, seimbang dengan selimut coklat yang menutupi semua bagian luar biskuitnya. Jadi, kalau sekali gigit itu rasanya nge-blend banget. Enyaaakkk… Sementara itu, untuk “Good Time Cheese Choco Chip” sudah tak diragukan lagi. Aku tuh suka paduan biskuit keju dan coklat chips-nya. Jadi, biskuitnya terasa gurih bercampur di mulut dengan manisnya coklat. Aduh, udah paling enak lah pokoknya buat camilan di jalan. Macet jadi tak terasa, tak terasa pula tiga bungkus habis sendirian dalam waktu sekejap saja. HahahaDoyan atau laper, Bun?

Ya, sekian review singkat tentang dua snack rasa keju yang menurutku sih lumayan enak rasanya, murah harganya, dan mudah didapatkan dimana saja. Oh ya, lagi-lagi mohon maaf kalau ada info yang salah ya, aku terima masukannya. Nah, kalau kamu suka yang mana? Tim Biscuits atau Tim Cookies? Atau ada lagi yang lain yang perlu aku coba? Silahkan share ya, Gaes! Kalau bisa jangan yang mahal-mahal ya, tapi kalau gratis sih boleh juga… ^_^ Ngarep.com.


#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost #biscuits #timtam #timtambiscuits #cookies #goodtime #goodtimecookies

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…