Langsung ke konten utama

Gagal Hari Kejepit

Pagi-pagi Althaf sudah siap menunggu mobil jemputan sekolah, penampilan rapi dengan seragam lengkap beserta topi. Cuaca hari ini nampak cerah, kemungkinan besar ia pun akan ikut upacara bendera 🇲🇨 hari Senin di sekolah. Namun, ada sesuatu yang berbeda, jemputan hari ini tiba lebih cepat dari biasanya, aku intip isi mobil tampak lebih sedikit juga isinya. Kupikir apakah mungkin siswa yang sakit semakin banyak, karena minggu lalu aku dengar beberapa orang kondisinya menurun seiring cuaca yang tak menentu.

Setelah mobil jemputan berangkat, aku di rumah masih sedikit khawatir, memikirkan Althaf dan teman-temannya karena memang beberapa anak sekitar rumah pun ada yang sedang sakit. Tak lama kemudian aku mengecek beberapa pesan di aplikasi whatsapp group khusus wali murid. Benar saja banyak yang izin, tapi bukan informasi sakit sepertinya. Aha! 💡 Aku baru ingat kalau besok adalah Hari Libur Nasional alias “Tanggal Merah” berarti hari ini adalah “Hari Kejepit”. Pantas saja hari ini linimasa media sosial pun masih ramai dengan foto liburan ke luar kota. Ternyata libur lumayan panjang toh akhir pekan ini.

Istilah “Hari Kejepit” nampaknya sudah tidak asing lagi. Satu hari dimana hari sebelum dan sesudahnya adalah hari libur, sementara hari tersebut kita harus melaksanakan aktivitas seperti biasa, bekerja atau bersekolah. Kalau bagi Althaf, hari ini Hari Kejepit yang paling berat sebenarnya untuk tetap bersekolah. Hehehe... Mulai Jumat pekan lalu ia libur untuk istirahat karena hari Kamis outing hingga siang menjelang sore, Sabtu dan Minggu libur akhir pekan, dan Selasa besok libur nasional. Lumayan panjang juga ya, kalau diisi dengan liburan ke luar kota? #kodekeras #bundabutuhpiknik 😋 @go_igo

Apa daya, hari ini bukan hari kejepit bagi Althaf. Hari Jumat, ia harus menemani bunda mengaji, Sabtu juga ayah dan bunda ada beberapa keperluan. Sementara Minggu ada undangan dan ayah latihan bola, sibuk deh pokoknya. Kalau Selasa besok hm… tidak ada rencana apa-apa sih. Hahaha… Semua penjelasan kesibukkan di atas sebenarnya hanya alasan saja kok saudara-saudara. Padahal memang sedang tanggal tua, jadi kami tidak membuat rencana untuk pergi liburan. Maaf ya, 😘 @althafarohugo semoga hari-hari kita kemarin hingga esok tetap menyenangkan. Sekian curhat ibu-ibu #jamannow yang gagal liburan di hari kejepit.

We could be happy anywhere as long as we’re together. ❤️ Tsaaahelaaahhh…!

#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah.
Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang sekali…

Dariku dan Untukku

08/30 •Dariku dan Untukku• . Bismillaahirrahmaanirrahiim... Hari ini, tepat seminggu di tahun baru 2020. Setelah pekan lalu membuat refleksi 2019, aku jadi teringat akan sesuatu. Sebuah batu titian awal, untuk melompat ke tingkatan selanjutnya dalam kehidupan. Lompatan terbesarku di tahun kemarin adalah keberanian dalam menentukan pilihan. Salah satunya adalah “memilih untuk terus menulis”. . Sebuah resolusi yang dibuat sejak awal tahun 2019 dan berhasil direalisasikan. Alhamdulillah, tentunya atas izin Allah, aku bisa konsisten untuk menulis sepanjang tahun. Menulis apapun, diary, tugas belajar, pekerjaan, bahkan yang tak pernah aku bayangkan, bisa ikut berkontribusi dalam tiga buah buku antologi. . Selama tahun 2019, Alhamdulillah lahir tiga buah buku antologi bersama teman di berbagai komunitas. Karya pertama adalah sebuah buku non-fiksi terkait “Unforgettable Moment”. Kemudian aku mulai belajar menulis fiksi dalam buku “Pelangi di Negeri Air” dan terakhir “HR Story”, sebagai rekam jejak…

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo
Oleh: Cindyta Septiana
Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012.
Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan kerabat, tak lain ad…