Langsung ke konten utama

Bundyta Tak Kenal GTM

Kalau dibaca dari judulnya saja, mungkin aku sudah langsung dilempar piring, oleh bunda-bunda yang “jungkir balik” menghadapi GTM pada anak nih! Hoho… Sabar Bun, mari kita kenalan dulu bersama-sama yaa... GTM singkatan dari Gerakan Tutup Mulut, biasanya dilakukan oleh para bayi dan anak-anak hingga usia tiga tahun. Pada fase ini, mereka menolak makanan yang diberikan, bahkan makanan yang mungkin sebelumnya disukai.

Banyak hal yang menjadi penyebab terjadinya GTM. Misalnya anak sedang tumbuh gigi, sehingga merasa kurang nyaman untuk makan. Bisa saja ia sedang dalam proses peralihan tekstur makanan, dari yang cair menjadi kental, atau terkejut dengan tekstur padat. Mungkin juga sedang bosan dengan jenis makanan tertentu karena terlalu sering diberikan atau malah sudah terbiasa dengan rasa makanan tertentu sehingga menjadi pemilih. Penyebab lain mungkin saja memang ia sudah kenyang, setelah minum susu atau makan camilan.

Bunda sudah “googling” resep sana-sini, belanja ke pasar sejak dini hari, masak bermacam menu dengan sepenuh hati, saat disodorkan ke anak, kok ya gak mau buka mulut sama sekali? Aduh… Perih rasanya hati ini, ingin aku potek-potek saja sendiri. Dengan ini, tak heran jika GTM menjadi momok bagi sebagian besar bunda di dunia. Apalagi bagi para bunda baru dan bunda yang ingin ikutan posting “MPASI Challenge”, hehehe… Percuma kan fotonya bagus, tapi anaknya gak mau makan?

Nah, konon berbagai cara pun dapat dilakukan untuk mengatasi GTM ini. Sama seperti permasalahan proses makan pada umumnya, waktu harus dibatasi. Baiknya bunda tidak memaksakan anak untuk menghabiskan makanan. Berusahalah hingga 30 menit saja, setelah itu selesai, sehingga anak tidak trauma. Bunda juga bisa mencoba menggabungkan jenis makanan baru, dengan makanan favoritnya. Untuk komposisinya juga bisa disesuaikan, trial dan error tak mengapa asal kebutuhan gizi anak terpenuhi.

Kemudian perhatikan tekstur makanan yang diberikan apakah sudah sesuai dengan pertumbuhan giginya, sesuaikan dengan bertahap ya, Bun! Terakhir, perhatikan waktu makannya, apakah anak baru saja minum susu, makan buah atau camilan? Berikanlah jeda waktu kosong sekitar dua jam. Sehingga dengan ini secara fisik dan psikologis anak pun siap untuk menyantap makanan yang sudah disiapkan.

Nah, demikian perkenalan singkat kita dengan GTM, itu semua didapat dari sharing bunda-bunda yang pernah berjuang menghadapi GTM. Kalau aku sendiri alhamdulillah jarang sekali mengalaminya. Eits, tenaaang…!!! Aku juga punya tantangan lain dalam memberi makan anak kok, anak yang pertama sukanya “mengemut” dan anak yang kedua seringkali “memuntahkan” makanan. Jadi, GTM tidak ada, mulut mereka selalu terbuka dan melahap makanannya, tapi setelah itu ujian kesabaran bunda pun tiba. HahahaInsyaAllah nanti aku share yaa… ^_^

#nulisyuk #nulisyukbatch18a
#bundytamenulis #ceritabundyta #cigofamily #diary #diarybundyta #diarycigo #challenge #menulis #tantanganmenulis #writing #writingchallenge #writingchallenge30 #menulis30hari #onedayonepost

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Dacin Inovatif

Setiap bulan, aku membawa Albarra ke Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu) untuk melakukan penimbangan berat badan dan tinggi badan. Selain itu, aku bisa mendapatkan informasi tentang kesehatan ibu dan anak, baik berupa seminar atau konsultasi dengan bidan. Sebenarnya posyandu di lingkungan tempat tinggalku biasa diadakan di dalam komplek perumahan, yakni wilayah RT (Rukun Tetangga). Namun, untuk waktu-waktu tertentu, posyandu terpusat di wilayah RW (Rukun Warga). Misalnya, saat pembagian vitamin A dan obat cacing setiap enam bulan sekali, atau imunisasi. Seperti halnya hari ini, ada pembagian obat cacing gratis dari pemerintah, sehingga posyandu RW dilaksanakan di perkampungan warga sebelah komplek rumah. Sebenarnya pemantauan berat dan tinggi badan, ataupun pemberian obat cacing bisa dilakukan mandiri. Namun, di sini kita bisa sekaligus silaturrahim dengan warga di luar komplek, khususnya ibu-ibu PKK (Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga) wilayah RW. Selain itu, Albarra juga senang

Belajar Menulis Biografi

Berkenalan dengan Sosok Emak Pendongeng Siska Dewi Raharjo Oleh: Cindyta Septiana Siska Dewi, ibu dua anak, kelahiran 10 Desember 1991, memiliki latar belakang keluarga yang unik. Berasal dari keluarga dengan suku Jawa terpatnya Purwokerto, Siska lahir di Bandung dan menetap di sana hingga menikah serta memiliki seorang anak. Anak pertamanya lahir pada bulan April tahun 2013, bernama Muhammad Rioiggo Asadfaiq, tepat setahun setelah pernikahannya dengan Pandu Raharjo, yang diselenggarakan pada bulan 20 Mei 2012. Siska dan suami memutuskan untuk menikah di usia muda karena pada saat itu, mereka sudah merasa siap secara mental, spiritual, dan finansial. Begitu pula dengan restu yang telah didapat dari orang tua, beberapa saat setelah wisuda menjadi Sarjana Pendidikan di Universitas Pendidikan Indonesia, jurusan Pendidikan Anak Luar Biasa. Namun, menikah di usia 21 tahun nyatanya bukan keputusan yang mudah. Kala itu Siska dihujani pula banyak pertanyaan dari keluarga dan

Dilema Kontrasepsi (Bagian 1)

Bismillah… Judulnya sudah menggambarkan banget ya? Aku tuh beneran sedang bingung alias dilema, bahasa gaulnya “galau”. Kontrasepsi yang ingin aku pakai selepas menyusui anak kedua, yang kebetulan tepat tiga bulan lagi. Pasca melahirkan anak pertama, aku langsung menggunakan pil KB merk Microlut keluaran Bayer, isinya levonorgestrel 0.03 mg (belum tau maksudnya apa, hanya baca di kemasan). Berlangsung selama tiga tahun, hingga aku memutuskan untuk program memiliki anak kedua. Setelah anak kedua lahir, aku minum kembali pil KB yang sama hingga dua minggu terakhir kemarin saat usia anak 20 bulan. Mengapa pil KB? Awalnya aku berkonsultasi ke dokter kandungan setelah masa nifas kelahiran anak pertama selesai. Saat itu, niat hati ingin memasang IUD yang konon memiliki akurasi paling tinggi. Namun, apa daya, sesampainya di dalam ruangan dokter, nyali aku ciut. Rasanya seperti trauma “bukaan” saat melahirkan, gak berani sama sekali kalau diminta untuk reka adegan seperti saat melahir